Setelah membaca otobiografi Soeharto karangan Zaenal Ali, saya sangat tertarik pada suatu bab yang mengungkap sisi lain kehidupan mantan orang terkuat nomor satu di Indonesia itu. Kisahnya bersama sang istri tercinta atau akrab disapa Ibu Tien mengundang beribu-ribu pertanyaan.
Soeharto sudah mengenal Siti Hartinah atau Ibu Tien sejak masa kecil mereka di Wuryantoro, Wonogiri. Tien berusia dua tahun lebih muda dari Soeharto. Soeharto perna dipuji Tien sebagai pemuda berwajah tampan, dan hanya dia yang berani masuk pekarangan rumah keluarga besar Tien, termasuk untuk menggoda Tien.(hehe) Soeharto masuk setelah merenggangkan jeruji pagar dan memetik bunga. Karena itu, setiap ada bunga yang rusak, Tien selalu bilang yang merusak pasti Soeharto.
Soeharto menikahi Tien pada 1947. Dari pernikahan itu mereka punya enam orang anak. Soeharto pernah menyebut Ibu Tien sebagai istri, ibu, dan pengabdi masyarakat.
Pada 1996, Ibu Tien meninggal. Menurut keterangan resmi keluarganya, Ibu Tien meninggal karena menderita suatu penyakit. Hingga sekarang masyarakat tidak benar-benar tahu penyebab yang sebenarnya. Peristiwa tersebut sangat memukul soeharto, apalagi setelah tahun 1996 dia mendapat berbagai serangan politik.
Sebenarnya perjalanan hidup Ibu Tien sendiri belum banyak diketahui. Masyarakat mengenalnya sebagai Ibu Negara yang aktif dengan berbagai kegiatan. Kisah yang muncul adalah ramalan tentang masa depan Soeharto.
Disebut bahwa pada tahun 1960-an seorang laki-laki berumur kira-kira lebih dari 50 tahun datang ke rumah Soeharto. Lelaki keturunan India yang ketika berbicara selalu menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia itu kemudian dipersilakan masuk oleh Ibu Tien. Lelaki itu langsung menawarkan barang dagangannya, berupa batu-batu permata yang berwarna-warni.
Sayangnya ketika berbagai jenis permata itu ditunjukkan, Ibu Tien tidak begitu tertarik. Namun, lekaki itu segera mengeluarkan jurus baru dengan mengaku bisa meramal. Tentu saja Ibu Tien menjadi tertarik dan ingin mendengarkannya. Dia setuju dengan penawaran itu karena sekedar ingin mengisi keisengannya. Masa lalu Ibu Tien yang diceritakan oleh orang India tadi banyak yang cocok dan hal itu membuat Ibu Tien semakin penasaran. Ibu Tien ingin tahu apa yang bisa dia katakan untuk masa yang akan datang.
Dialog pun berlanjut hingga akhirnya mengarah kepada nasib Soeharto. Sang penjual mempertontonkan “jurusnya” dan lagi-lagi Ibu Tien terpana.. Dia bilang:”Madam… suami Madam akan berdiri sama tinggi duduk sama rendah dengan presiden yang sekarang, Soekarno,” kata lelaki itu. Mendengar penjelasan itu, Ibu Tien hanya tersenyum dan mengaku tidak percaya dengan sang peramal. ”Ah tak mungkin. Suami saya hanya seorang perwira tinggi TNI AD.”
Sang peramal mengaku tak akan memaksa Ibu Tien untuk mempercayai ramalannya. Justru yang dia perlukan adalah imbalan jasa. Ibu Tien kemudian bertanya berapa bayarannya. Lelaki itu menjawab,”Forty thousand.” Ibu Tien justru mengira sang peramal itu meminta imbalan forteen thousand.
“Madam, not forteen but forty,” kata si lelaki.
Sebenarnya Ibu Tien sendiri merasa menyesal. Sebab, biaya meramalnya terlalu tinggi. Mengapa untuk sekedar iseng-iseng harus membuang empat puluh ribu yang pada waktu itu tergolong jumlah yang sangat besar. Setelah uang diberikan, sang peramal itu lalu pergi. Sejak itu Ibu Tien mengaku tak pernah lagi bertemu dengan peramal itu.
Sungguh sulit dipercaya, Soeharto akhirnya menjadi seorang tokoh bangsa yang tampil pada 1 Oktober 1965, menghadapi kudeta PKI, lalu dipercaya menjadi presiden menggantikan Soekarno.
Lalu siapa sebenarnya penjual permata itu?? Ibu Tien bahkan menyuruh ajudan-ajudanny untuk mencari lelaki itu dengan harapan bisa bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih. Tetapi keinginannya itu belum jua terwujud hingga dia menghembuskan nafas terakhir.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
weeeh, bru tw klo ad kisah beginian hoho...
iya dan katanya neh, Ibu Tien itu membawa wahyu bagi orang yang mendampinginya...hoho... Liat aja Soeharto, dari anak petani bisa jadi presiden dan 'jatuh' ga lama setelah Ibu Tien meninggal...
Posting Komentar