Kesekian kalinya terhenti, kesekian kalinya pula saya memulai . Selalu berlaku hukum Newton II dimana gaya gesek terbesar adalah pada saat mobil mulai berjalan (sok sains), sama halnya dengan yang saya rasakan setiap memulai kembali menulis di blog ini. Haha… Well, setiap orang pasti punya saat-saat yang tak terlupakan dalam hidupnya baik itu momen baik maupun momen buruk. Dalam 20 tahun terakhir ini (seumur hidup maksudnya) masa yang paling memorable dalam hidup saya adalah masa SMA dan saya sangat berharap akan ada masa-masa lain yang tak terlupakan dalam hidup saya kelak.
Sewaktu SMA saya hanyalah seorang pelajar biasa yang sangat nekat (ato kepedean y hehe) dalam mengikuti berbagai macam perlombaan. Saya mengikuti cukup banyak lomba, juga mendapat cukup banyak kegagalan. Tetapi di balik keberhasilan ataupun kegagalan yang menimpa saya, ternyata ada satu pelajaran berharga yang mungkin tidak semua orang bisa dapat. Pelajaran berharga itu tak lain adalah bagaimana kita menghadapi kegagalan dan keberhasilan itu sendiri. Di saat gagal, buanglah rasa malumu, dan di saat berhasil, tunjukkanlah wibawamu. Failure is only a game you haven’t finished yet, but if you quit from the game, you have just failed indeed.
Salah satu pengalaman tak terlupakan buat saya yaitu sewaktu saya mengikuti lomba kimia di UI (Univeritas Indonesia). Entah apa yang ada dalam benak saya waktu itu, secara saya ngga ada bakat sama sekali dalam pelajaran itu. Mungkin karena jenuh dengan kegiatan sekolah dan saya mulai mencari cara untuk membolos. (What! Tapi cara halal ya hoho) Saya mulai merekrut temen-temen saya dalam misi busuk ini karena kebetulan peserta lomba harus dalam bentuk tim yang terdiri dari 3 orang. Atas persetujuan guru kimia saya yang paling handal, Bu Elisabeth, terkumpullah 3 tim untuk berlomba di UI Depok. Hmm…kegiatan ini sempat membuat saya bosan karena pelatihan yang padat dan berat (mau untung jadi buntung haha). Setelah seminggu persiapan, kita berangkat bersama-sama ke Jakarta. Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, kita naik bus ke Depok (jauuh juga uey).
Entah gimana lika-likunya, tibalah kita semua di UI Depok. Terlihat seorang kakak kelas alumni Xaverius 1 Jambi yang kebetulan adalah panitia perlombaan ini sedang menyambut kedatangan kita. Kemudian kita diantar ke penginapan melalui sebuah jalan yang sempit dan panjang. (lelah sekali rasanya…fiuh) Jreeeeng… Terlihat sebuah kos-kosan yang amat sangat sederhana sekali. Di dalam sebuah kamar yang dihuni 3 orang hanya terdapat sebuah ranjang, meja, kursi, dan WC. Udara malam itu terasa sangat gerah dan panas, bagaimanapun mengharuskan kita tidur agar bisa mengikuti pembukaan perlombaan esok harinya. Untunglah saya bisa tidur dengan nyenyak walaupun hanya beralaskan matras.
Pagi-pagi sekali kira-kira jam 5 Bu Elisabeth menggedor kamar kita satu per satu. Kita semua terbangun dan bersiap untuk berangkat ke kampus. Dengan mata-mata yang bengkak, kita pun berjalan kaki menelusuri lorong yang tak berujung menuju kampus UI. Ternyata UI depok itu sangat luas sehingga kita harus naik bus untuk menuju gedung perlombaannya. Sesampainya di gedung tersebut, kita menuju sebuah ruangan pertemuan yang cukup besar. Di sana kita dijelaskan seluk-beluk perlombaan terutama hari pertama dimana kita diminta mengerjakan soal-soal secara tertulis. Setelah semuanya panitia selesai berbicara, kita semua balik ke kos dan istirahat. Ada yang bener-bener istirahat, ada pula yang freak mengerjakan soal-soal (fiuh).
Saat-saat yang dinanti-nantikan pun tiba, kita bersembilan telah duduk dalam sebuah ruangan. Soal-soal mulai dibagikan dan panitia mulai memberi aba-aba untuk memulai kerja. Saya tidak ingat lagi soal-soal yang ditanyakan, yang jelas soal-soal tersebut sangat sulit. Kita keluar ruangan dengan tampang lemes, lesu, tak berharap, dan tak berselera. Dua jam kemudian pengumuman tim-tim yang masuk ke babak kedua pun keluar. Fortunately, 2 dari 3 tim masuk ke babak kedua, termasuk tim saya. Terlihat tangis dari anggota-anggota tim kita yang ga lolos. Kita semua termasuk Bu Elisabeth berusaha menghibur mereka agar tidak berkecil hati. Kegagalan itu ga selalu buruk, malem harinya mereka yang ga lolos keliatan begitu ceria dan bernyanyi-nyanyi, sedangkan kita yang lolos malah belajar dan mengerjakan soal mati-matian dengan tampang frustasi.(ckck…)
Di hari kedua tepatnya pada babak kedua ini ternyata pertandingan disajikan dengan begitu menarik. Kita diberi modal nilai 1000 dan kita ditugaskan mendatangi 10 pos yang ada. Bila ada pos yang tidak dilewati, kita diberi sanksi dengan pengurangan nilai 500. Setiap pos terdiri dari 4 pertanyaan yang masing-masing bernilai 100, 200, 300 dan 400. Kita diberi kebebasan untuk memilih pertanyaan-pertanyaan tersebut dan diberi kebebasan untuk tidak menjawab. Bila kita berhasil menjawab, nilai pertanyaan ditambahkan pada skor kita, tetapi bila kita salah menjawab, skor kita akan dikurangi dengan nilai pertanyaan tersebut. Awalnya tim saya menerapkan strategi untuk mempertahankan modal yang ada. Jadi kita berencana hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang gampang yang bernilai 100. Manusia selalu tidak puas, setelah berhasil menjawab pertanyaan bernilai 100, kita minta lagi pertanyaan bernilai 200 dan bisa, kita minta lagi yang 300 dan ternyata ngeblank (gubrak!!). Akhirnya strategi bermutasi menjadi ‘Asal dijawab semua’. Haha… Dua jam kemudian pengumuman anggota yang lolos ke babak ketiga keluar. Hasilnya tim saya ketiga terendah dengan nilai 300, tim satunya lagi paling rendah dengan nilai -400. Padahal nilai tim yang lolos hanya berkisar 900, 1000, dan 1100. Kita semua sangat menyesal karena tidak konsisten dengan strategi awal. Tragis… Terlihat ada tim yang menertawakan nilai kita (kita sendiri juga ketawa benernya). Wakaka… Untung lah Bu Elisabeth dan temen-temen yang lain tetep memberi semangat untuk tidak menyerah (tapi buat pertandingan lain kalo ada haha).
Saat itu perasaan saya begitu lega karena sudah lepas dari penyiksaan dan senang karena Bu Elisabeth akan mengajak kita berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor besoknya. Sebelum kita pulang ke kos, terlihat seorang mahasiswa yang mengenalkan namanya pada saya dan mengajak kita semua untuk berkeliling gedung arsitektur. Tetapi ada aura ga enak yang saya rasakan, ternyata temen-temen menahan tawa dari belakang. Setelah orang asing berinisial H itu pergi, barulah saya minta pertanggung-jawaban mereka. Di belahan UI lainnya, di saat kita sedang berlomba di babak kedua, ternyata ada seorang mahasiswa mengaku teman dari kakak kelas saya yang tak lain adalah panitia lomba. Dia mengajak salah satu temen saya berkenalan. Kebetulan mereka yang udah gugur di hari pertama tetep menemani kita berlomba di kampus. Karena temen saya tak mengacuhkannya, dia mengajak ngobrol Bu Elisabeth. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan begitu dalam yang sebenarnya tidak pantas ditanyakan pada orang yang baru kita kenal. Dan parahnya dia meminta guru saya mencarikan jodoh buat dia, dia menambahkan kalo susah sekali mencari yang tiiiiiiiiit di UI. (Wakakaka…) Ternyata begitu ceritanya. Saya sempat merasa kesal karena teman-teman saya tidak memberitahu saya dari awal, kalau saya tahu toh ga perlu berbasa-basi dengan orang aneh itu.(ckck)
Hari itu adalah hari yang terindah selama berada di Depok. Kita akan pergi ke Bogor (hoho). Seperti biasa kita melewati jalan yang sempit dan panjang. Di tengah perjalanan, salah satu temen saya melihat orang yang berinisial H yang menuju ke arah kita. Kita semua shoked dan berlahir masuk ke salah satu rumah makan padang (ternyata Bu Elisabeth juga ilfil hahaa). Setelah dirasa kondisi telah aman, kita keluar lagi melanjutkan perjalanan menuju ke stasiun kereta api. Saya bener-bener pertama kali naik kereta api. Perjalanan terasa menyenangkan buat saya karena kita naik kereta bisnis yang cenderung lebih nyaman, bersih, dan aman. Akhirnya kita sampai juga di Bogor. Well, suasana kotanya agak semeraut karena banyak angkot yang berhenti di sembarangan tempat. Di Kebun Raya Bogor, kita dapat melihat berbagai tanaman langkah, fosil, sampai makam-makam penjajah Belanda. Saya sempat merasa gelisah karena tidak sengaja menginjak makam Van Den Bosch. Semoga dia ga dendam deh (fiuh). Indonesia memang negara kepulauan dengan berkah yang begitu luar biasa. Saya harap kita setidaknya bisa menjaga kekayaan alam kita. Waktu memang relatif buat setiap orang, hari itu terasa sangat singkat buat kita. Sore pun datang juga dan kita pulang menuju stasiun kereta api. Ternyata tiket yang tersisa hanya kereta ekonomi (mau tak mau). Berbeda sekali dengan waktu kedatangan tadi pagi, suasana begitu tenang, sedangkan sore itu terasa begitu mencekam dengan hiruk pikuk orang yang berjualan dan keluar masuk kereta. Ting..akhirnya kereta berhenti di Depok. Guru dan temen-temen yang kebetulan berada di gerbong sebelah telah turun. Saya berusaha keras untuk berdesak menembus sekerumunan orang untuk keluar dari kereta. Tak disangka sesampai saya di pintu gerbong, kereta telah melaju, semakin lama semakin cepat. Saya jadi panik dan ga tau harus bagaimana. Orang-orang digerbong membisikkan saya untuk melompat. Saya sempat takut, tetapi akhirnya saya memberanikan diri untuk melompat dari kereta dengan alasan takut menyasar ke tempat asing dan tak bisa kembali lagi. Braakkk… Saya jatuh ke tepi stasiun. Fiuh… Saya masih bisa bergerak dan membalikkan kepala saya ke arah kiri. Terlihat ada 1 temen saya yang melompat juga digerbong sebelah, dan diikutin teman saya satu lagi digerbong sebelahnya. Kalau diamati dari atas sama persis dengan efek domino. Wakakaka… Hp saya hilang dan kaki-tangan saya berdarah. Bu Elisabeth kelihatan begitu panik dan langsung membawa kami pulang. Saya segera meminjam Hp temen saya untuk memberitahu keluarga soal Hp hilang akibat kejadian ini . Sedikit menyesal karena mereka menjadi sangat khawatir dan berulang kali menanyakan keadaan saya.
Begitulah ceritanya…Luka itu tidak hanya membekas di tangan saya, tetapi membekaskan kenangan indah di hati saya…^^
Kamis, 23 Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
