Minggu, 24 Agustus 2008

4bia

Semalam gw dn temen-temen pergi nonton '4bia' di Blitzmegaplex. Y..itu salah satu hobi kita kalo weekend. Nah, film horor ini berbeda banget dengan film-film horor yang udah gw tonton. Film ini adalah gabungan dari 4 kisah horor dan direkap oleh sutradara yang sama dengan film 'Shutter'.(Thailand)

Cerita pertama diawali dengan munculnya seorang gadis yang menggunakan gips di kakinya. Dia sedang berdiri di balkon sebuah rumah susun sambil melihat-lihat pemandangan sekitarnya yang cukup kumuh. Kemudian ada suara sms masuk ke ponselnya,'Saya ingin berkenalan denganmu'. Awalnya, gadis yang tinggal sendiri di rumah yang sempit ini tidak mengacuhkan sms tadi, tetapi ga lama kemudian, dia merasa penasaran dan membalas smsnya.

Gadis:Apakah kita kenal?
08xxxxxxxxxx:Dulu kita tidak kenal, tapi sekarang kita udah kenal.
Gadis:Kamu perempuan ato lelaki?
08xxxxxxxxxx:lelaki.
{Jawaban yang cukup menggembirakannya...}
Gadis:Saya kesepian. Ini sudah hari ke-100 saya tidak keluar rumah soalnya saya kecelakaan saat naik taksi dan akibatnya saya harus memakai gips di kaki saya.
08xxxxxxxxxx:Saya juga. Ini juga hari ke-100 saya.
{Malam berikutnya...}
08xxxxxxxxxx:kamu lagi apa?
Gadis:lagi baring kesepian.
08xxxxxxxxxx:boleh minta fotomu lewat mms?
Gadis:boleh..tapi kamu juga kirim fotomu y.
{si gadis merapikan rambutnya kemudian memotret dirinya sendiri}
Gadis:saya udah kirim tuh. saya ga secantik yang kamu kira kah? haha...
{kemudian 08xxxxxxxxxx mengirim fotonya}
Gadis:kamu curang. kog kirim foto yang tadi kukirim?
08xxxxxxxxxx:saya ada di sebelahmu. apa kamu nggak liat?
Gadis:jangan bercanda.
08xxxxxxxxxx:saya bener ada di sebelahmu.
{...}

Keesokan harinya si gadis mencoba menelpon lelaki semalam karena penasaran siapa pemilik nomor tak dikenal itu, tetapi selalu saja muncul suara,'The number you r calling is not defined'. Karena merasa aneh, si gadis isenk mencari pemilik nomor tadi lewat internet. Tanpa sengaja dia menemukan beberapa artikel, ada tentang matinya putri sofia di phuket, dan lebih menarik perhatiaannya yaitu ada orang tua yang meletakkan ponsel di kuburan anaknya supaya anaknya bisa menelpon ke rumah kalau rindu(hiii...). Si gadis pun tiba-tiba takut dan teringat dengan pemilik nomor tak dikenal semalam.Tiiitt....(kaget!!)sms masuk,'apa yang kamu takutkan?'(dari 08xxxxxxxxxx). Gadis itu shocked dan langsung mematikan ponselnya. Tiiit...sms masuk lagi(ponselnya hidup sendiri..),'Saya tidak suka kamu mematikan ponselmu'. Lampu tiba-tiba padam dan gadis itu nangis ketakutan,'siapa kau?? jangan ganggu aku!' Tiba-tiba muncul sepasang mata yang mengerikan dibalik kegelapan. Gadis itu berteriak karna takut setengah mati, berlari sekencang-kencangnya, dan tanpa sadar terjun dari jendela (mati tergeletak di jalan). Bersamaan dengan itu, ada mobil yayasan lewat sambil menebarkan kimcua (uang akhirat menurut adat China) dan terpampang foto seorang lelaki dengan tulisan '100 hari kematian XXX', dan ternyata lelaki ini mati karna ditabrak taksi yang ditumpangi si gadis .

Nah, mau tau kisah kedua, ketiga, dan keempat yang jauh lebih seram? Nonton sendiri ya...hehe...

Jumat, 22 Agustus 2008

My lovely campus...

Halo semuanya...
kali ini gw mau nyantai aja nulisnya...ga perlu pake tata tulis bahasa indonesia yang baik dan benar...haha...
Hm...udah seminggu gw kuliah di semester 3 ini. Banyak hal yang membuat gw jengkel dan ngos-ngosan, salah satunya karna banyaknya jadwal yang bentrok, dan puncaknya adalah dosen matek(=matematika teknik) gw yang belum menampakkan batang hidungnya sampe saat ini. Tapi...walau bagaimanapun...gw seneng banget masuk semester 3 ini. Gw merasa menjadi mahasiswa seutuhnya, maklum setaun sebelumnya gw hanya mahasiswa TPB ITB yang masih disuapin semuanya.

Lumayan terlambat, di tahun kedua ini, gw baru sadar kalo ITB mengajarkan gw segalanya, dari ilmu eksak sampe cara hidup. Mencapai kesuksesan ternyata ga segampang yang gw kira karna rintangan selalu datang bertubi-tubi. Thx God, gw bisa lewati semuanya dengan baik. Terlebih lagi, gw bisa lebih mengatur temperamen dan lebih tidak ngotot dengan pendapat gw di saat yang tidak diperlukan. Seperti kata dosen favorit gw, Budi Raharjo (alumni elektro ITB yang sekarang banyak menulis buku programming), Engineers like to solve problem. Kata-kata itu sangat memotivasi saya dalam belajar hal-hal yang sulit.

Btw, baru-baru ini gw nemuin sepasang orang gila di kampus ITB. Yang pertama itu seorang wanita yang kira-kira berusia 30-40 tahun. Hm...gosipnya seh namanya Donna. Kemunculan perdananya di hadapan gw adalah saat gw daftar ulang di semester ini. Bajunya ga terlalu compang-camping seh, tapi dandanan mukanya menor banget. Seperti orgil biasanya deh, suka ngomong sendiri dan bawa segumpal nota yang ga jelas isinya. Katanya neh, dulunya si Donna ini ambil jurusan teknik fisika di ITB dan sekaligus ambil jurusan teologi di universitas lain. Nah, karena mungkin dia terlalu menghayati fisika dan teologi yang bertolak belakang itu, dia jadi gila seperti sekarang. Tapi ada juga gosip yang mengatakan kalo si Donna ini adalah bagian dari badan inteligen Rektorat yang bertugas mengawasi mahasiswa baru, soalnya dia hanya muncul di semester ganjil dimana ada penerimaan mahasiswa baru. Ga jauh berbeda dengan si Donna, ada satu lagi yang gw nemuin di TU elektro lantai 2. Awalnya gw ga nyangka kalo dia gila soalnya pakaiannya cukup rapi dan membawa setumpuk kertas. Oya dia pria seumuran si Donna, tapi gw belum tau namanya. Sambil menunggu dosen system digital, gw duduk di dekat TU dan tanpa sengaja memandang ke arahnya. Dia melihat gw dan tersenyum lebar. Sejenak, gw kira orangnya friendly. Ternyata setelah gw perhatiin lagi, ekspresinya ga berubah, selalu tersenyum lebar kemana pun dia memandang. (erg..)Dan satu hal lagi yang menguatkan pendapat kalo dia gila, yaitu puluhan kali dia mondar-mandir mencatat jadwal, menyusun kertas-kertasnya dan kemudian tertawa terbahak-bahak. (wkwk...)

Itulah kampus ITB, aneh tapi unik... ^^

Sabtu, 16 Agustus 2008

Tak jauh berbeda dengan topik sebelumnya, masih seputar keseharian saya di bandung. Sekarang waktu menunjukkan jam 23.00 dimana 1 jam lagi kita akan menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Sambil menunggu detik-detik proklamasi, saya ingin mengingat-ingat apa saja tentang hari ini. Jam sebelas pagi tadi saya, Fanny, Vivi, Acai, Andri, Arifin, dan Ivan pergi bermain badminton ke daerah Cisitu. Wah...bermain badminton bener-bener seru, apalagi dengan turnamen. Sayangnya, karna lapangan hanya ada 1, kami harus bermain bergantian. Permainan diawali dengan pertandingan ganda Acai dan Andri melawan Arifin dan Ivan. Setelah itu, digantikan dengan saya dan Acai melawan Fanny dan Vivi, begitu dan seterusnya. Kandidat terkuat adalah Arifin. Arifin bisa mengalahkan cewek-cewek hanya dengan memulai service(ck..ck..), padahal dari penampilan kelihatan kurang gesit. Tanpa terasa waktu sewa lapangan sudah habis dan kita terpaksa mengakhiri game. Kita kemudian pulang ke kos masing-masing, tapi hanya untuk mandi. Setelahnya, kita pergi lagi ke tempat Andri, Arifin, dan Ivan yang kebetulan berada dalam 1 kos untuk nonton pertandingan badminton (Olimpiade Beijing 2008) yang disiarkan langsung di tvri.

Selasa, 12 Agustus 2008

Kesalahan harus dibayar

Setelah saya hampir membereskan masalah pengambilan mata kuliah yang ribet dan dipersulit, saya memutuskan untuk tukar tambah printer. Sebenarnya saya sudah memutuskan printer mana yang akan saya beli. (F 2180) Hanya saja kebiasaan saya yang suka menunda-nunda membuat saya menyurvey harga terlebih dahulu. Setelah bertanya-tanya, harga beli printer seri ini sekitar 700 ribu dan harga jual printer bekas saya (3325) hanya 100 ribu. Karna tidak rela printer bekas saya dijual semurah itu, saya nekad membondong barang berat ini ke Wisma Lippo (counter hp) yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya. (2 kali angkot = 5000) Sesampainya saya disana, saya mencari tempat duduk yang nyaman sambil melihat televisi yang menayangkan berita tentang penangkapan Sheila Marcia. (hot gossip gile…) Kemudian ada orang yang masuk dan dia mengambil nomor antrian. Oh my God…saya tak menyangka harus mengambil nomor antrian dan dengan terpaksa, saya harus menunggu jauh lebih lama hanya karna ada seorang yang mendahului saya. Akhirnya tiba juga gilaran saya. Sungguh di luar dugaan, reparationnya sebentar aja. Lalu saya diberi bon tagihan yang berisi harga elemen yang rusak. (50 rb) Saya cukup lega saat itu karna berpikir mungkin harga jual printer gw bakal naik. (hehe..)
Dengan penuh semangat saya bawa printer saya ke BEC untuk ditukar tambah. Entah setan apa yang merasuki pikiran ini, saya kemudian memutuskan untuk menghemat uang dengan tidak membeli printer baru. Sesampai di BEC, saya langsung membeli tinta hitam original. (145 rb) Orang yang menjual tinta tadi kelihatan ringan tangan dengan menawarkan pemasangan tinta yang baru saya beli. Dengan gegabah, saya mempersilakannya. Setelah dipasang, ternyata pendeteksiaannya sangat lama dan terancam hanya hitam di atas putih. Seketika saya tersadar kalau saya telah membuat kesalahan fatal dengan memperbaiki printer dan membeli tinta original padahal harga jualnya tetap 100 rb, sedangkan uang yang telah dihabiskan, 5000+50 rb+145 rb atau 200 rb. (2 x harga jual printer saya) Seandainya waktu dapat diputar, saya pasti telah menukar tambah printer saya yang tak terselamatkan ini dengan printer F 2180 yang lebih canggih dan lebih terjangkau dengan cukup membayar 600 rb. Memang benar kata orang, kesalahan harus dibayar. Akhirnya saya membeli printer hp D2466 (435 rb) dan membawa pulang printer yang menyusahkan ini. Fiuh…

Kamis, 07 Agustus 2008

Mr. Gratis

Ini post perdana saya di bulan Agustus 2008. Tgl 3 Agustus lalu, pagi-pagi sekali, saya tiba di Bandara Sultan Thaha. Setelah berpamitan dengan ortu, saya pun masuk ke ruang tunggu. Perasaan saya saat itu senang bercampur sedih. Senang karna bakal ketemu temen-temen di Bandung dan sedih karna harus meninggalkan ortu, teman, dan segala kenikmatan di Jambi. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, ternyata saya telah ditunggu oleh teman-teman saya untuk naik travel bareng ke Bandung. Seperti biasa, Acai dan Aki kelihatan lebih gembrot dari biasanya. (hehe…) Kemudian Acai memperkenalkan adik kelasnya yang laki-laki yang akan masuk ke kos kita sekaligus ke kampus tercinta, ITB. Dia bernama Kalvin. Kesan pertama ketemu anak ini biasa-biasa saja, tapi dia lah yang akan menjadi tokoh utama cerita ini.

Ketika tiba di kos, ternyata banyak anak baru lainnya, salah satunya adalah si kembar bernama Yohanes dan Yakobus. Keduanya bagai pinang dibacok dua, tapi mereka tetap dapat dibedakan berdasarkan insting kemanusiawian. Keduanya sangat kalem dan sedikit pendiam. Berbeda dengan si kembar, Kalvin cenderung lebih berani dengan kakak kelas. Dan satu hal lagi, anak ini berjiwa ‘gratisan’. (apa-apa mau gratis) Pertanyaan favoritnya, ‘Eh, ada barang yang ga dipakai ga?’(hoho…) Kebiasaannya yang jarang pake sandal saat keluar kamar mengingatkan saya pada film ‘God Must Be Crazy’ yang bercerita tentang laki-laki berkoteka. Sungguh di luar dugaan, kalo anak ini peraih perunggu TOFI musim lalu.

Malam kemarin, kita semua pergi makan ke restoran mandarin. Menu yang kami pesan lumayan enak yaitu kangkung cha sapi, kodok goreng mentega, dan cumi cha tahu. Kalvin yang bagai vacuum cleaner saat melahap makanan tadi selalu berkeluh kesah soal harganya dan entah bagaimana ceritanya sampai dia menyebutkan utang-utangnya. Dalam benak saya, sebenarnya harganya itu cukup wanted dengan makanannya. Sifat pelitnya memang telah mendarah daging. Setelah makan di restoran mandarin, kita pergi ke dago pakar. Wah, harga makanan di sana emank ngga tanggung-tanggung. Kita semua memesan makanan, kecuali Kalvin. Dia hanya memesan minum dan kemudian pergi ke toilet. Kami pun mengobrol dan melihat pemandangan seluruh kota Bandung sambil menunggu pesanan. Tak lama kemudian, pesanan pun datang. Terlihat sebuah cangkir yang sangat kecil seukuran cangkir zaman china kuno yang di dalamnya berisi expresso. Semua tertawa dan menebak kalo itu pasti yang dipesan si Kalvin. Karena mengira Kalvin bakal shocked melihat cangkir mungilnya, kami pun menukar expresso dengan segelas jus besar milik Dani.

Akhirnya Kalvin datang juga. Saat dia ingin meminum jus tadi, dengan segera Aki menukarkannya dengan cangkir imut tadi. Tak salah lagi, kalvin benar-benar shocked dan kami semua menertawakannya. (haha…) Kalvin pun mengukur cangkirnya dengan terheran-heran.