Selasa, 12 Agustus 2008

Kesalahan harus dibayar

Setelah saya hampir membereskan masalah pengambilan mata kuliah yang ribet dan dipersulit, saya memutuskan untuk tukar tambah printer. Sebenarnya saya sudah memutuskan printer mana yang akan saya beli. (F 2180) Hanya saja kebiasaan saya yang suka menunda-nunda membuat saya menyurvey harga terlebih dahulu. Setelah bertanya-tanya, harga beli printer seri ini sekitar 700 ribu dan harga jual printer bekas saya (3325) hanya 100 ribu. Karna tidak rela printer bekas saya dijual semurah itu, saya nekad membondong barang berat ini ke Wisma Lippo (counter hp) yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya. (2 kali angkot = 5000) Sesampainya saya disana, saya mencari tempat duduk yang nyaman sambil melihat televisi yang menayangkan berita tentang penangkapan Sheila Marcia. (hot gossip gile…) Kemudian ada orang yang masuk dan dia mengambil nomor antrian. Oh my God…saya tak menyangka harus mengambil nomor antrian dan dengan terpaksa, saya harus menunggu jauh lebih lama hanya karna ada seorang yang mendahului saya. Akhirnya tiba juga gilaran saya. Sungguh di luar dugaan, reparationnya sebentar aja. Lalu saya diberi bon tagihan yang berisi harga elemen yang rusak. (50 rb) Saya cukup lega saat itu karna berpikir mungkin harga jual printer gw bakal naik. (hehe..)
Dengan penuh semangat saya bawa printer saya ke BEC untuk ditukar tambah. Entah setan apa yang merasuki pikiran ini, saya kemudian memutuskan untuk menghemat uang dengan tidak membeli printer baru. Sesampai di BEC, saya langsung membeli tinta hitam original. (145 rb) Orang yang menjual tinta tadi kelihatan ringan tangan dengan menawarkan pemasangan tinta yang baru saya beli. Dengan gegabah, saya mempersilakannya. Setelah dipasang, ternyata pendeteksiaannya sangat lama dan terancam hanya hitam di atas putih. Seketika saya tersadar kalau saya telah membuat kesalahan fatal dengan memperbaiki printer dan membeli tinta original padahal harga jualnya tetap 100 rb, sedangkan uang yang telah dihabiskan, 5000+50 rb+145 rb atau 200 rb. (2 x harga jual printer saya) Seandainya waktu dapat diputar, saya pasti telah menukar tambah printer saya yang tak terselamatkan ini dengan printer F 2180 yang lebih canggih dan lebih terjangkau dengan cukup membayar 600 rb. Memang benar kata orang, kesalahan harus dibayar. Akhirnya saya membeli printer hp D2466 (435 rb) dan membawa pulang printer yang menyusahkan ini. Fiuh…

2 komentar:

Liz mengatakan...

Ckck..Sharusnyo cc kul ekon0mi,bkn robotika..Ato karna ktularan si mr.Perhitungan itu??Hahaha..Kasian2..Jd printer butut t lum dibuang la?
Tp udah la dpp,anggep aj amal ma tukang angk0t,tukang reparasi,ama penjual tintanya..Wkwkwk

S!S_KA mengatakan...

iya neh..kurang ilmu ekonomi..
wkwk...mknya wa ambil manajemen proyek sem ini ..buat perbaikan idup hoho...
iy lum dibuang...kasih tmn aja...
lumayan tuh, masih bisa nge-print wkwkwk.....