Kamis, 07 Agustus 2008

Mr. Gratis

Ini post perdana saya di bulan Agustus 2008. Tgl 3 Agustus lalu, pagi-pagi sekali, saya tiba di Bandara Sultan Thaha. Setelah berpamitan dengan ortu, saya pun masuk ke ruang tunggu. Perasaan saya saat itu senang bercampur sedih. Senang karna bakal ketemu temen-temen di Bandung dan sedih karna harus meninggalkan ortu, teman, dan segala kenikmatan di Jambi. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, ternyata saya telah ditunggu oleh teman-teman saya untuk naik travel bareng ke Bandung. Seperti biasa, Acai dan Aki kelihatan lebih gembrot dari biasanya. (hehe…) Kemudian Acai memperkenalkan adik kelasnya yang laki-laki yang akan masuk ke kos kita sekaligus ke kampus tercinta, ITB. Dia bernama Kalvin. Kesan pertama ketemu anak ini biasa-biasa saja, tapi dia lah yang akan menjadi tokoh utama cerita ini.

Ketika tiba di kos, ternyata banyak anak baru lainnya, salah satunya adalah si kembar bernama Yohanes dan Yakobus. Keduanya bagai pinang dibacok dua, tapi mereka tetap dapat dibedakan berdasarkan insting kemanusiawian. Keduanya sangat kalem dan sedikit pendiam. Berbeda dengan si kembar, Kalvin cenderung lebih berani dengan kakak kelas. Dan satu hal lagi, anak ini berjiwa ‘gratisan’. (apa-apa mau gratis) Pertanyaan favoritnya, ‘Eh, ada barang yang ga dipakai ga?’(hoho…) Kebiasaannya yang jarang pake sandal saat keluar kamar mengingatkan saya pada film ‘God Must Be Crazy’ yang bercerita tentang laki-laki berkoteka. Sungguh di luar dugaan, kalo anak ini peraih perunggu TOFI musim lalu.

Malam kemarin, kita semua pergi makan ke restoran mandarin. Menu yang kami pesan lumayan enak yaitu kangkung cha sapi, kodok goreng mentega, dan cumi cha tahu. Kalvin yang bagai vacuum cleaner saat melahap makanan tadi selalu berkeluh kesah soal harganya dan entah bagaimana ceritanya sampai dia menyebutkan utang-utangnya. Dalam benak saya, sebenarnya harganya itu cukup wanted dengan makanannya. Sifat pelitnya memang telah mendarah daging. Setelah makan di restoran mandarin, kita pergi ke dago pakar. Wah, harga makanan di sana emank ngga tanggung-tanggung. Kita semua memesan makanan, kecuali Kalvin. Dia hanya memesan minum dan kemudian pergi ke toilet. Kami pun mengobrol dan melihat pemandangan seluruh kota Bandung sambil menunggu pesanan. Tak lama kemudian, pesanan pun datang. Terlihat sebuah cangkir yang sangat kecil seukuran cangkir zaman china kuno yang di dalamnya berisi expresso. Semua tertawa dan menebak kalo itu pasti yang dipesan si Kalvin. Karena mengira Kalvin bakal shocked melihat cangkir mungilnya, kami pun menukar expresso dengan segelas jus besar milik Dani.

Akhirnya Kalvin datang juga. Saat dia ingin meminum jus tadi, dengan segera Aki menukarkannya dengan cangkir imut tadi. Tak salah lagi, kalvin benar-benar shocked dan kami semua menertawakannya. (haha…) Kalvin pun mengukur cangkirnya dengan terheran-heran.

2 komentar:

Liz mengatakan...

Wkwkwkakaka..Brp harga tu expresso?? Pasti ud yg paling murah kan?Hahaha..
Btw tukang kayu t sapa ce?

S!S_KA mengatakan...

iya...
parahny lagi lis...
sabun pun pinjem....ck..ck...

wah sapa y...wa jg ga tau tuh...=p